Setiap tradisi
merupakan budaya turun-temurun yang mau tidak mau harus dipertahankan oleh
setiap generasinya serta harus dipegang teguh karena itu salah satu bentuk rasa
hormat seseorang terhadap leluhur di daerah tempat tradisi itu berkembang.
Apalagi Indonesia
adalah negara dengan masyarakatnya mayoritas muslim (pemeluk agama Islam), berbagai
macam acara atau tradisi menyambut Bulan Suci Ramadan atau bulan puasa banyak
digelar di berbagai daerah. Budaya dalam penyambutannya tentu berbeda-beda.
Namun, semangatnya tetap sama. Penyambutan yang dilakukan masyarakat
saat datangnya Bulan Ramadan atau bulan puasa merupakan bentuk rasa syukur
serta kegembiraan umat muslim.
Orang Betawi semenjak
agama islam masuk ke nusantara mereka mulai meninggalkan beberapa adab serta
perilaku yang tak sesuai dengan ajaran yang membawa kepada kemuliaan. Misal, yang
tadinya masyarakat betawi meyakini bahwa pohon, batu besi bertuah, dan
lain-lain memiliki kekuatan yang bisa menolong atau menyelamatkan diri dan
keluarga mereka. Secara perlahan mereka tinggalkan serta lantas menyadari bahwa
itu adalah kesyirikan terhadap Allah SWT.
Seperti halnya di
akhir bulan Sya’ban, menjelang bulan Ramadan, ada sebuah tradisi yang sampai
saat ini masih kerap dilaksanakan oleh masyarakat betawi seperti munggahan.
Dalam kaitannya dengan Ramadan, munggah bisa berarti masuk ke bulan Ramadan
yang memiliki berbagai keutamaan dibanding dengan bulan-bulan lainnya. Pada
salah satu malam terakhir Sya’ban dalam rangka menyambut bulan Ramadan,
Rasulullah SAW memberikan ‘pembekalan’. Menurut hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu Khuzaimah, Rasulullah bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian akan
dinaungi oleh bulan yang senantiasa agung, lagi penuh berkah. Bulan yang di
dalamnya ada malam yang lebih baik dari 1000 bulan”.
Selanjutnya Rasulullah
bersabda, “Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu perbuatan
kebajikan (sunnah), ia akan mendapatkan pahala seperti kalau ia melakukan
perbuatan wajib pada bulan lain. Barang siapa melaksanakan suatu kewajiban pada
bulan (Ramadan) itu, ia akan mendapatkan pahala seperti kalau ia mengerjakan 70
perbuatan wajib pada bulan yang lain”.
Dalam tradisi
“munggah”, biasanya seluruh anggota keluarga yang berada di luar kota akan
berkumpul di tempat orang tuanya. Ini dilakukan untuk menjalin keharmonisan
hubungan keluarga, menikmati saat santap sahur bersama yang sangat jarang
dilakukan. Namun kini akibat pengaruh migrasi, tradisi “munggah” tidak lagi
dianggap perlu dilakukan di kampung, di kotapun bisa. Misalnya dengan
mengunjungi tempat hiburan atau tempat-tempat yang memungkinkan tetap mempertahankan
tradisi ini. Kegiatan “munggah” umumnya dilakukan oleh individu, keluarga, dan
kelompok masyarakat. Biasanya menonjolkan berupa kegiatan bersuci atau mandi
besar, kemudian tabuhan-tabuhan bedug setelah salat subuh hingga menjelang
malam pertama Ramadhan, dan acara membersihkan makam, serta makan bersama.
“Munggahan” Bagi orang
betawi kata ini sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga. Kata yang biasa
mereka dengar apabila memasuki bulan suci Ramadan. Kata Munggahan ini sendiri
berasal dari Bahasa Sunda yaitu “unggah” yang mempunyai arti kata naek ka
tempat nu leuwih luhur atau naik ketempat yang lebih tinggi. (Danadibrata,
2006:727)
Memang apabila di
runtutkan betawi ini lebih dekat akan budaya sunda, karena betawi ini sendiri
bukanlah suku akan tetapi sebuah bentuk perpaduan dari berbagai suku yang
membentuk budaya baru di Batavia. Maka sebenarnya tidak ada istilah “suku
betawi” yang ada hanyalah “anak betawi”.
“Biasanya munggahan
dilaksanakan oleh masyarakat betawi dengan berbagai macam kegiatan, seperti
dengan ziarah ke kubur (ngored), rowahan (selamatan), keramas dengan merang
(padi yang dibakar) agar diri menjadi bersih lahir batin, serta saling
beranjang sana menyambung tali silaturrahim”, ujar Adhes Satria yang merupakan
salah satu tokoh Betawi.
Ibu Yulis yang
merupakan masyarakat asli Betawi mengatakan bahwa,“Sebelum memasuki malam
munggah itu sendiri masyarakat betawi biasanya mempunyai suatu rentetan acara,
yang paling utama biasanya menziarahi makam orang tua yang pada umumnya
dilaksanakan pada Jumat terakhir ramadan. Biasanya pada masyarakat yang
benar-benar akan kental tradisi betawinya yang paling mencolok adalah mereka
mengadakan yang namanya ngasih seserahan kepada sanak keluarga untuk diolah
bagi yang sudah berkeluarga kepada orang tua, agar dapet berkahnya.”
Sebenarnya makna dari
tradisi munggahan adalah untuk introspeksi diri dari segala kesalahan yang
sudah pernah dilakukan sebelumnya dan sebelum memasuki Bulan Ramadan tersebut.
Segala kesalahan terutama kepada sahabat, teman dan keluarga dapat diampuni.
Pada akhirnya seseorang memasuki Bulan Ramadan dalam keadaan bersih hati dan
bersih diri.
*Sudah dimuat di http://www.depokpos.com/arsip/2017/05/munggahan-tradisi-betawi-yang-masih-terjaga-setiap-masuk-ramadan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar